Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2011

Aku Menyayanginya




Dimatamu,
Aku mungkin saja hanya ilusi atau bahkan mimpi belaka. Tapi aku tak peduli karena bagiku, kangen dan rindu ini begitu jelas untuk mu

Aku merasakan sesuatu saat ini, rindu akan dirimu, rindu melihat dirimu, rindu dengan senyuman dirimu. Hangat nya kecupan bibirmu menyentuh keningku, masihh sangat ku rasakan hingga saat ini. Hari ini mentari bersinar cerah, ku berharap diriku akan secerah mentari itu. Yang akan terus menyinari dirimu. Lamunan matahari merindukan bulan, mimpi bulan menunggu saat pertemuan.

Mengapa harus terjadi?
Apa yang sebenarnya terjadi?

Dirimu begitu cepat masuk kedalam hidup ku
Tapi, apakah pantas aku seperti ini. Apakah hanya waktu yang bisa menjawabnya. Hatiku yang terbelenggu tidak bisa dibohongi oleh perasaan ini. Jika kau tidak ada mengapa mata ini selalu ingin mencari untuk melihatnya. Jika kau bicara mengapa telinga ini igin selalu mendengarnya. Jika tangan ini dingin mengapa selalu ingin digenggamnya.

Ya Allah berilah petunjuk kepada diriku ini. Apakah aku salah seperti ini?
Salahkah diriku menyayangi dirinya.

Pujangga Cinta

Hai Sang pujangga
Salahkah diriku saat ku pandang dia, bergetar tubuhku
Hai orang bijak
Katakanlah padaku apa yang kurasakan setiap ku menatapnya setiap ku
Menyapanya kutergetar tak bergerak
Hai pujangga, hai kau yang bijak, katakan apa yang diriku rasakan

Dengarkan permintan hati qu. Tak bisa dipungkiri bahwa aqu menyayangi dirimu. Aku tak tau ap yg ku rasa kn dlm hati ku saat prama kali lihat dirimu melihat mu. Detak jantung ku berdetak tak menentu. Seperti nya aq tak ingin berlalu. Tolong lah aku bgmn diriku ungkapkan rasa yg terbelenggu, berilah syg mu ku akan menjaganya.

Semua yg terjadi sudah ditetapkan oleh sang penentu kejadian

Dirimu bgtu cpt msk kr dlm hidup ku
Tapi, apakah pantas aku sprti ini. Apakah hanya waktu yg bisa menjawabnya. Hati ku yang terbelenggu tdk bisa dibohongi oleh perasaan ini. Jika kau tdk ada mengapa mata ini sllu ingin mencari untuk melihatnya. Jika kau berbicara mengapa telinga ini ingin sllu mendengarnya. Jika tangan ini dingin mengapa sllu ingin di genggamnya

Jendela Sunyi

Di jendela wajahmu menyatu dengan daunnya dalam

rindu mendalam pada derak roda pedati yang mulai rusak

ingatlah kasih, kuda ini telah menangis, perih yang teriris rindu

membeku di ujung belati

ku ingat sisirmu yang menngantung letih di rambut

masih adakah hitam disana? sehitam kepulan asap dapurmu

tempat ku bersembunyi dari mimpi tadi pagi

kasih, sebentar lagi perjalanan ini akan menyudahi panjangnya

karena kuda ini juga tahu apa yang dibawanya;

berton-ton surga surga yang tak lagi menaruh angka

Tak Tersentuh

Terlihat namun tak tersentuh

Sambil menunggu jawaban, ketika gula sudah terlanjur bercampur kedalam dua cangkir Kopi panas malam itu, tidak ada lagi yang dapat kuhirup dan hembuskan karena kabarnyapun mentah kudapatkan, sampai degup jantung ini tak lagi senada dengan hembusan nafasmu, meringkuk tertusuk dingin karena hati semakin terkontaminasi oleh cerita tentang mata yang sulit terpejam

Tergeletak, membuka bahu dan lengan namun tidak berarti memasung fikiran…

Kabut turun dari lereng-lereng bukit kerinduan lalu berkelana demi mencari berita, sampai diantara riak-riak pelangi, Mentari mulai mencair….angin telah membeku….desahan tak lagi terdengar, sampai akhirnya aku yang akan menghilang, Demi waktu yang kuhabiskan tanpa sia-sia, demi genggaman yang mungkin memang telah terlepas…demi semua ini, Bacalah….andai kau merasakan apa yang aku rasakan, tetaplah tegar, tetaplah bersamaku…. jangan terpejam

Terbungkus rapi, namun tersirat dahan itu masih tertunduk ke arahku lalu tercium aroma yang sangat aku kenal, Walau tercemar warna kelabu dan hitam dini hari itu, namun aku yakin kamu tau maksud tulisanku…, Tentang semua ini lalu tentang cerita betapa sunyi telah menyayat pada dinding bayangan maya’ku, Namun jangan diratapi, sungguh…selembar daun itu lebih kuat dari apa yang kita bayangkan, Mungkin sudah suratan burung-burung terbang ke utara, demi manangkis kutukan dari sang peri pagi hari

Maafkan bila duri-duri mawarku telah robek telapak tanganmu lalu terkoyak, Lupakan mengapa riwayat berakhir, namun jangan abaikan lentera yang selalu tepati janjinya pada setap senja itu, Tiga jam menunggu kisah tragis demi membuktikan, tak selamanya ribuan bintang berkedip lalu berpijar…..aku, Seperti menatap dari ketinggian, seperti saat bumi berhenti berguncang dan seperti terbangun dari mimpi yang panjang, Seperti itulah yang disampaikan embun yang menetes tanpa buktikan apa-apa,…

Bagaimana dengan janji esok hari…?

Mungkin hanya akan ada kegilaan, atau mungkin memang sudah dilupakan

Biarkan, biar waktu yang menjawab, mengapa terlalu dalam guratan-guratan ini terukir…

Tak tersentuh

Jumat, 22 April 2011

Semua Tentangmu

Di ujung lembayun senja
Lamunan berhenti di bayangmu
Bayang yang selalu menjadi mimpi
Pada hati yang menunggu

Di gelapnya temaram bulan
Khayalanku jatuh di dirimu
Sosok yang terus melekat dalam jiwa
Bersama rindu yang mendera

Di terbitnya sang fajar
Pikiranku masih tentangmu
Pada diri yang tertanam di relung
Yang menjadi paruhan hidup

Terlihat namun tak tersentuh

Sambil menunggu jawaban, ketika gula sudah terlanjur bercampur kedalam dua cangkir Kopi panas malam itu, tidak ada lagi yang dapat kuhirup dan hembuskan karena kabarnyapun mentah kudapatkan, sampai degup jantung ini tak lagi senada dengan hembusan nafasmu, meringkuk tertusuk dingin karena hati semakin terkontaminasi oleh cerita tentang mata yang sulit terpejam

Tergeletak, membuka bahu dan lengan namun tidak berarti memasung fikiran…

Kabut turun dari lereng-lereng bukit kerinduan lalu berkelana demi mencari berita, sampai diantara riak-riak pelangi, Mentari mulai mencair….angin telah membeku….desahan tak lagi terdengar, sampai akhirnya aku yang akan menghilang, Demi waktu yang kuhabiskan tanpa sia-sia, demi genggaman yang mungkin memang telah terlepas…demi semua ini, Bacalah….andai kau merasakan apa yang aku rasakan, tetaplah tegar, tetaplah bersamaku…. jangan terpejam

Terbungkus rapi, namun tersirat dahan itu masih tertunduk ke arahku lalu tercium aroma yang sangat aku kenal, Walau tercemar warna kelabu dan hitam dini hari itu, namun aku yakin kamu tau maksud tulisanku…, Tentang semua ini lalu tentang cerita betapa sunyi telah menyayat pada dinding bayangan maya’ku, Namun jangan diratapi, sungguh…selembar daun itu lebih kuat dari apa yang kita bayangkan, Mungkin sudah suratan burung-burung terbang ke utara, demi manangkis kutukan dari sang peri pagi hari

Maafkan bila duri-duri mawarku telah robek telapak tanganmu lalu terkoyak, Lupakan mengapa riwayat berakhir, namun jangan abaikan lentera yang selalu tepati janjinya pada setap senja itu, Tiga jam menunggu kisah tragis demi membuktikan, tak selamanya ribuan bintang berkedip lalu berpijar…..aku, Seperti menatap dari ketinggian, seperti saat bumi berhenti berguncang dan seperti terbangun dari mimpi yang panjang, Seperti itulah yang disampaikan embun yang menetes tanpa buktikan apa-apa,…

Bagaimana dengan janji esok hari…?

Mungkin hanya akan ada kegilaan, atau mungkin memang sudah dilupakan

Biarkan, biar waktu yang menjawab, mengapa terlalu dalam guratan-guratan ini terukir…

Tak tersentuh

Kenangan

kenangan2 itu yg jarang q lalui bersamamu

ingin aq mengulang kmbli

hnya lwat tulisan indah q rasakan

aq tak mngrti kekalahan q bgitu dahsyat

aq tak ingin,q hnya jd teman

aq kalah dgn tiga tahun yg kelam

kau berubah dan tak sama

mngkin bukan cinta,mungkin persahabatan

aq tak ingin,tp tak mungkin

waktu q lalui bgtu indah saat dgnmu

q yakin kau jg rasakan,

tp kau slalu mengigkarkan,aq tak snggup menahan

andai jd cnta aq yakin kau tersiksa

andai jd teman aq terluka

biarlah cnta jd pengandaian

lwt lisan aq kan temukan pendanmping mu di hatiku

smga kau senag dan menang,,,

aq kalah oleh perasaan,,

Saat Cinta Datang

Ya Rabb cinta buat diriku lemah
coba tuk bertahan
tiap desiran dihatiku makin kuat
buatku rapuh

keindahannya seakan melengkapi hari-hariku
hidupku galau ketika rasa cinta datang
kapan hinggap tak kenal waktu

tenangkan hatiku
hamba-Mu telah dilenakan cinta
berilah sandaran kepadaku, Ya Rabb …
agar aku tak terjebak dicinta semu
cinta yang akan membuat diriku semakin berkhayal
dan masuk dalam jurangg kenistaan

Selasa, 05 April 2011

Collection

Hati Bersih Melihat Tuhan
Setiap orang melihat Yang Tak Terlihat
dalam persemayaman hatinya.
Dan penglihatan itu bergantung pada seberapakah
ia menggosok hati tersebut.
Bagi siapa yang menggosoknya hingga kilap,
maka bentuk-bentuk Yang Tak Terlihat
semakin nyata baginya.



Kesucian Hati
Di manapun, jalan untuk mencapai kesucian hati
ialah melalui kerendahan hati.
Maka dia akan sampai pada jawaban “Ya” dalam pertanyaan
Bukankah Aku Tuhanmu?


Memahami Makna
Seperti bentuk dalam sebuah cermin, kuikuti Wajah itu.
Tuhan menampakkan dan menyembunyikan sifat-sifat-Nya.
Tatkala Tuhan tertawa, maka akupun tertawa.
Dan manakala Tuhan gelisah, maka gelisahlah aku.
Maka katakana tentang Diri-Mu, ya Tuhan.
Agar segala makna terpahami, sebab mutiara-mutiara
makna yang telah aku rentangkan di atas kalung pembicaraan
berasal dari Lautan-Mu.


Tuhan Hadir dalam Tiap Gerak
Tuhan berada dimana-mana.
Ia juga hadir dalam tiap gerak.
Namun Tuhan tidak bisa ditunjuk dengan ini dan itu.
Sebab wajah-Nya terpantul dalam keseluruhan ruang.
Walaupun sebenarnya Tuhan itu mengatasi ruang.


Lihatlah yang Terdalam
Jangan kau seperti iblis,
Hanya melihat air dan lumpur ketika memandang Adam.
Lihatlah di balik lumpur,
Beratus-ratus ribu taman yang indah!


Keterasingan di Dunia
Mengapa hati begitu terasing dalam dua dunia?
Itu disebabkan Tuhan Yang Tanpa Ruang,
Kita lemparkan menjadi terbatasi ruang.

sumber: Puisi-Puisi Sufi Pilihan Karya Jalaluddin Rumi

Kamis, 24 Februari 2011

mendung bersahabat lagi



merangkai cinta dari butiran gerimis
bila nanti dia kan jatuh ke bumi
ketika mendung jadi sahabat
hujan adalah ibuku

menanti bagai menyulam asa
sehelai benang adalah rindu
jarum cinta menusuk rasa
tiadamu bagai raga tanpa nyawa
kau tak lagi jadi nafasku
selimut malam terlempar jauh
dalam lara

jangan tanyakan lagi
sudikah temani tidur panjang
karena aku masih ingin sadarmu
meski bukan aku seorang di dermaga
yang kau arungi
aku ingin kau jadi nahkoda
hingga di pelabuhan terakhir
saat nyawa lepas dari raga
saat nafas tak lagi terasa
akan aku jadikan kau kekasih abadi

Rabu, 23 Februari 2011

Rindu



Rindu Itu Indah
Rindu itu menyiksa
Rindu itu bahagia
Rindu Itu terluka

Semua merindu, kadang terpaku
Manusia selalu merindu

Rindu pada cinta
Rindu pada dusta
Rindu pada Kaya
Rindu pada sengsara

Rindu pada penguasa alam
Semua memiliki rindu yang berbeda

Ingin Kupetik Bintang Kejora



Mengapa kau tak melihat apa yang aku fikirkan?
Semuanya terbuka terbaca di mataku
Mengapa kau tak peduli isyarat yang kukirimkan
lewat sejuta puisi, lewat selaksa bunga?

Engkau tetap diam membeku
Kau tepiskan mimpi-mimpiku
Kuhunus pedang cinta, kupekikkan asmara
Semula kau tetap diam
kemudian kau tersenyum
Ingin kupetik bintang kejora
untuk kusematkan di dadamu,
di jantungmu

Mengapa hanya namamu terpatri dalam jiwaku?
Haruskah aku menyerah sebelum aku coba?

Engkau tetap diam membeku
Kau tepiskan mimpi-mimpiku
Kuhunus pedang cinta, kupekikkan asmara
Semula kau tetap diam
kemudian kau tersenyum
Ingin kupetik bintang kejora
untuk kusematkan di dadamu,
di jantungmu.

Derai Derai Cemara


Cemara menderai sampai jauh
Tersa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulumemang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta
Dan ada yang tahu tetap tidak terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah




Chairil Anwar

Cinta



Cinta,
cinta bagiku kau memiliki sayap terindah
para pencinta mengagumimu
kau pun senantiasa menebar cintamu
Hatimu lembut para pencinta pun mengelu-elukan namamu
senantiasa menjagamu melindungimu sepanjang masa


Cinta,
cinta aku merindukanmu
namun kau tak pernah berbalik
melihatku memberiku sedikit rasa
Indah dirimu dipandang,
dikenang selamanya
namun tak sekali pun aku merasakan itu cinta,
berikan aku cintamu itu....

Kau



Kumohon, bersabarlah
Pada gerah sengat Yang bakar gelisahmu.
Atau Pada ujung beku yang gigiti sanubarimu.

Akan bukit cinta kita Yang meranggas karenanya.
Tunggulah, Gerimis

kan turun basahi Atau titik embun satu-persatu
kan lumuri dahagamu Meski harus menunggu kerontang berlalu

Kutahu kau 'kan setia Arungi angkara itu
buatku Lewati kesakitan dengan tulusmu

Bersabarlah,
Mohonku dengan kedua lututku Kau begitu berarti buatku

Memori



Malam ini kita masih bisa tertawa
Bahagia tanpa sadari waktu mungkin kan terhenti
Genggam tangan ku dengan erat
Tersenyumlah di hari yang mungkin tak begini

Ingat kembali semua yang pernah kita lakukan bersama
Tertawa walau di cerca membela kawan yang kesulitan
Kita kan selalu bersama
Dalam memori yang tak terbatasi

Waktu biarkan sepi senang
Dan berjanjilah
Tak kan pernah lupakan sebutirpun kenangan
Yang telah tercipta di setiap detik bersama

Walau esok kau dan aku
Tak kan bisa lagi bertemu
Tetap lah simpan memori yang telah tercipta

Sekantong Penuh Cinta Hari Ini


Aku hanya punya cinta.
Sekantong penuh cinta pada hari ini.
Kadang lihat sendu ingin kubagi dua jatah cinta hari ini.
Biar sendu rasakan setengahnya cinta.
Aku hanya punya cinta.
Kukumpulkan dari tiap hempasan nafas tak sengajamu.
Sekantong penuh cinta pada hari ini.
Kubaringkan lelahku di dadamu.
Lalu, sesaat kusadar ada lubang di situ.
Mungkin luka.
Bekas luka lama.
Hitung-hitunganku bekerja keras.
Kurasa cukup sekantong cinta ini 'tuk tambal luka itu.
Ini, kuberikan padamu saja.
Sekantong cinta.
Tidak kubagi dua.
Sekantong penuh.
Besok mungkin bukan nafasmu, tapi keringatmu yang akan berikan aku.
Sekantong penuh cinta lagi. Tenang saja, cinta tak akan habis....

Selasa, 22 Februari 2011

“Keresahan Hati”


Sendiri ku di ujung senja yang sepi
Ditemani rasa yang tersembunyi
Apakah dirinya tahu gejolak hati ini
Akankah dirinya tahu jiwa ini yang ingin memiliki


Memang cinta tak harus memiliki
Tapi bisakah cinta bahagia bila tak memiliki
Rasanya jiwa ini resah tanpa kehadirannya
Hati ini sangatlah hampa tanpa dirinya


Betapa lidah ini ingin mengucap
Ya Tuhan,,, Aku cinta dia
Akankah dia tahu dengan apa yang kurasa
Apakah dia mengerti dengan apa yang kudamba




Dalam doa ku selalu memohon
Bantulah aku untuk ungkapkan rasa
Untuk dirinya yang jauh di sebrang sana